2026 adalah fase dimana saya jujur saja semakin banyak yang ingin saya ceritakan sekaligus bingung harus dimana tulisan saya disimpan. Sejak beberapa tahun ke belakang, memang saya merasa menulis adalah salahsatu cara atau mekanisme saya menumpahkan percakapan di kepala saya.

Kenapa Menulis?

Seperti yang sudah saya tulis diatas, menulis adalah salahsatu cara saya menuangkan ide yang efektif, sharing tanpa harus merasa ada yang "judge", dan hasil tulisan memang selalu konkret, dalam artian ada wujudnya dalam bentuk digital maupun fisik. Ditengah lautan konten hasil AI dan LLM yang saya sendiri sulit membedakan mana tulisan hasil AI dan mana hasil tulisan dari manusia, saya merasa rindu dengan gaya tulisan era blog 2010-an dimana semuanya terasa natural, tujuan menulis ya memang untuk menulis. Memang micro-blogging seperti di platform Threads, X dsb sangat bisa dan kerap dijadikan alternatif namun memiliki trade-off yang tidak bisa saya terima, yaitu cepat viral namun cepat pula tenggelam. Untuk itulah saya memutuskan untuk memulai membangun blog dan mulai aktif lagi menulis.

Blogging, Dominasi Media, dan AI Content di SERP

Tahun 2010-an, blogging memang begitu populer sampai-sampai banyak orang memiliki cita-cita menjadi seorang blogger. Tulisan di internet memiliki banyak sekali varian dan setiap blog/website terasa memiliki khas penulisan masing-masing. Era dimana clickbait title masih sedikit, konten dengan intent informational terasa punya manfaat yang besar, Media-media raksasa sibuk dengan bidang spesialis masing-masing. Namun semuanya berubah ketika media besar mulai merambah ke micro-niche yang biasanya blogger kecil kuasai, mereka menyapu habis hampir seluruh niche. Pertanyaan se-absurd apapun seperti contoh "Arti mimpi dikejar anjing" atau "Cara menyimpan singkong kukus agar tidak menjadi tape", mayoritas dikuasai media besar di SERP. Tentu kita tidak bisa menyalahkan karena memang secara data mungkin saja memiliki search volume yang besar dan media raksasa melihat itu sebagai peluang. Masalahnya ketika hal ini terjadi, blogger dengan niche yang sangat tersegmentasi kehilangan banyak pembaca, dan disini blogger kecil memiliki posisi yang tak jarang sudah tidak masuk akal untuk dikejar dan porsi yang terlalu kecil, tidak worth-it untuk ditekuni.

AI generated content membuat persaingan pun semakin tidak masuk akal. Setiap hari, jutaan artikel ditulis dan di-index. Masuk akal ketika blogger memilih untuk menyerah di titik ini karena seperti yang saya bilang sebelumnya: ini seperti semakin tidak worth-it untuk ditekuni, terlebih untuk blogger yang memang fokus menghasilkan uang dari tulisannya!.

Motivasi Sederhana

Lalu, atas semua keluhan dan temuan ini kenapa saya memulai lagi blogging di 2026? seperti yang saya tulis di intro, menulis memang sudah menjadi rutinitas saya bahkan ketika tulisan itu tidak diketahui dan dibaca siapapun. Tujuan saya membangun blog ini memang hanya untuk menulis, berbagi pengalaman, dan berbagi cerita atas hal yang saya alami di kehidupan saya. Saya tidak berharap tulisan saya nangkring di page one, biar media raksasa saja. Saya hanya ingin membaca tulisan gaya khas blogger meskipun itu adalah tulisan saya sendiri.

Kesimpulan

Saya sadar saya bukan media besar, pengetahuan saya tentang SEO, AEO juga sangat jauh dari kata senior dan profesional bahkan mungkin terlalu naif terlalu mengada-ngada untuk disebut master, dan kehidupan saya juga tidak se-spektakuler kehidupan seorang CEO. Saya hanya ingin tetap menulis, dan terkadang bernostalgia blogging zaman dulu. Dan kalau para pembaca sampai kepada bagian kesimpulan ini saya ucapkan terima kasih sudah mampir. Untuk kedepannya saya akan mengisi web ini dengan tulisan yang kadang terlalu sederhana untuk dipublikasikan, mungkin kadang-kadang tidak layak untuk SEO, tapi saya berkomitmen untuk senantiasa jujur atas apa yang saya tulis.