Di bulan September ini, entah sudah berapa bulan musim kemarau berjalan. Udara pagi terasa kering apalagi udara siang yang pengap. Sebagai konteks, saya tinggal di Kabupaten Bandung, yang biasanya suhu udara berkisar 18-27 derajat Celcius namun belakangan ini suhu udara terasa lebih panas terlebih ketika siang hari.

Sebuah Kekhawatiran

Memang musim apapun patut kita syukuri karena alam punya “kehendak”-nya sendiri. Namun belakangan ini saya sedikit dibuat overthinking dengan sesuatu yang saya perhatikan jarang dibahas, yaitu kekeringan. Karhutla yang tengah terjadi dan menimpa saudara kita di Kalimantan juga menjadi salah satu tanda bahwa kemarau tahun ini benar benar kering.

Kekhawatiran Yang Mulai Terjadi

Bulan Juli-Agustus, saya sebetulnya agak heran kenapa issue kekeringan jarang saya temui, entah algoritma saya yang sedang tidak merekomendasikan atau memang belum menjadi prioritas. Saya pikir ya sudah, mungkin bakal aman dan semoga aman-aman saja. 

Pada Akhir Agustus, satu kejadian pagi hari yang menyadarkan saya bahwa jangan-jangan kekhawatiran saya sudah mulai terjadi. Suatu pagi, mesin pompa di rumah terus menyala tapi keran tidak mengeluarkan air. Saya putuskan hari itu untuk melihat pelampung penampungan air mungkin rusak. Singkat cerita, pelampung di toren utama baik-baik saja dan berfungsi, dan toren air memang kosong, saya putuskan untuk cek beberapa sambungan pipa dan semuanya rapat, tidak ada kebocoran dimanapun. 

Saya punya asumsi terakhir yaitu mesin pompa mungkin bermasalah. Saya coba “pancing” namun tetap tidak ada air yang naik. Maka dari itu, dari semua trial & error singkat ini saya bisa ambil kesimpulan bahwa air sumur rumah kami sedang kering.

Menerima Dengan Pasrah

Setelah kami mengetahui fakta ini, kami mulai menyiasati bagaimana caranya pemakaian air di rumah dibuat seefisien mungkin, tentunya dengan mempertimbangkan supaya kami tetap bisa memenuhi kebutuhan air di rumah di saat supply sedang krisis. 

Setelah kami melakukan beberapa penghematan penggunaan air, ternyata kebutuhan air masih kurang. Mau tidak mau, saya harus mencari sumber air. Tetangga di sekitar kami pun memang dalam kondisi yang sama, solusi yang saat itu saya pikirkan adalah menghubungi saudara yang memang supply air nya banyak.

Solusi Sementara

Saya putuskan keesokan harinya untuk berkunjung ke rumah saudara yang kebutuhan airnya dari PDAM. Saya berkunjung dan cerita bahwa sumur di rumah kami sedang kering. Saya juga meminta izin jika boleh, untuk sementara minta beberapa galon air setiap hari sampai sumur di rumah kami kembali mengumpulkan air, dan saudara kami mengizinkannya.

Jadi sampai postingan ini ditulis, sumur di rumah kami masih kering dan setiap hari saya meminta air untuk kebutuhan harian kami. Saya berharap para pembaca tidak mengalami kejadian seperti saya. Dan jika boleh memberi saran, gunakan sumber daya apapun itu dengan bijak. Karena begitu sumber daya itu hilang, kita baru sadar bahwa kita(atau saya) baru menyadari sumber daya tersebut memang sangat berharga untuk disia-siakan.